-->
Advertise
Advertise

Ebook Menyanggah Darwinisme

Advertise
Dalam buku ini, kita akan mengkaji krisis ilmiah yang dihadapi oleh teori evolusi ini.

Judul Buku: Menyanggah Darwinisme
Penulis: Harun Yahya
Penerbit: -
Tebal: 224 Hal
Format: RTF

Sipnosis

Siapa pun yang bertanya tentang bagaimana makhluk hidup, termasuk dirinya, menjadi ada, akan menghadapi dua penjelasan yang bertolak belakang. Yang pertama yaitu "Penciptaan", yang berpandangan bahwa makhluk hidup muncul merupakan hasil sebuah rancangan cerdas.

Penjelasan kedua yaitu teori "Evolusi", yang berpandangan bahwa makhluk hidup bukan hasil dari rancangan cerdas, tapi dari sebab-sebab serba kebetulan dan proses alamiah.

Selama satu setengah abad sampai sekarang, teori evolusi mendapatkan dukungan luas dari masyarakat ilmiah. Ilmu Biologi diterangkan dengan penjelasan yang berdasarkan konsep evolusionis.

Itulah sebab, antara kedua penjelasan tentang penciptaan dan evolusi, kebanyakan orang menganggap bahwa penjelasan evolusionis lebih ilmiah. Berdasarkan hal itu, mereka percaya evolusi adalah sebuah teori yang didukung oleh temuan-temuan ilmiah, sementara penciptaan dianggap sebagai kepercayaan berlandaskan keimanan. Kendatipun demikian, pada kenyataannya temuan-temuan ilmiah bertolak belakang dengan teori evolusi.

Temuan-temuan dua dekade belakangan bahkan secara terbuka bertentangan dengan anggapan dasar teori evolusi. Berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti biokimia, genetika populasi, anatomi perbandingan, paleontologi dan biofisika, membuktikan bahwa proses alamiah dan kebetulan tidak bisa menjelaskan [asal-usul] kehidupan, sebagaimana yang disebutkan dalam teori evolusi.

Buku ini mengkaji krisis ilmiah yang dihadapi teori evolusi. Karya ini berlandaskan pada temuan-temuan ilmiah.Teori evolusi dengan mengatasnamakan kebenaran ilmiah harus menghadapi temuan-temuan ini serta mempertanyakan berbagai anggapan yang selama ini mereka pegang.

Penolakan terhadap "Penciptaaan" berarti mengakui secara terbuka bahwa kesetiaan mereka pada teori evolusi lebih bersifat dogmatis dari pada ilmiah.


Baca Juga
Halaman:
Advertise
tes4 tes4 tes4 tes4
tes5 tes5 tes5 tes5 tes5
Advertise
CLOSE